Minggu, 26 Februari 2017

PERTEMUAN KE 5PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM PEMBELAJARAN KIMIA

E-learning adalah suatu sistem atau konsep pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar. Berikut beberapa pengertian E-learning dari berbagai sumber:
1.Pembelajaran yang disusun dengan tujuan menggunakan sistem elektronik atau komputer sehingga mampu mendukung proses pembelajaran (Michael, 2013:27).
2.Proses pembelajaran jarak jauh dengan menggabungkan prinsip-prinsip dalam proses pembelajaran dengan teknologi (Chandrawati, 2010). Pengertian e-learning berbeda dengan pembelajaran secara online (online learning) dan pembelajaran jarak jauh (distance learning).Online learning merupakan bagian dari e-learning, hal ini seperti yang dinyatakan oleh Australian National Training Authority bahwa e-learning merupakan suatu konsep yang lebih luas dibandingkan online learning, yaitu meliputi suatu rangkaian aplikasi dan proses-proses yang menggunakan semua media elektronik untuk membuat pelatihan dan pendidikan vokasional menjadi lebih fleksibel. Online learning merupakan suatu pembelajaran yang menggunakan internet, intranet dan ekstranet, atau pembelajaran yang menggunakan jaringan komputer yang terhubung secara langsung dan luas cakupannya (global). Sedangkan distance learning, cakupannya lebih luas dibandingkane-learning, yaitu tidak hanya melalui media elektronik tetapi bisa juga menggunakan media non-elektronik.Distance learning lebih menekankan pada ketidakhadiran pendidik setiap waktu. Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan secara umume-learning dapat diartikan sebagai pembelajaran yang memanfaatkan atau menerapkan teknologi informasi dan komunikasi. E-learning adalah kegiatan belajar yang menggunakan internet yang dapat dikombinasikan dengan kegiatan tatap muka yang adadi lembaga pendidikan.Penerapan e-learning banyak variasinya, karena perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang cepat.

Model Pengembangan Pembelajaran Berbasis Web

Multimedia pembelajaran berbasis web merupakan perangkat lunak yang digunakan dalam aktivitas pembelajaran. Salah satu referensi pengembangan perangkat lunak adalah pendapat pakar Software Enginering yaitu Roger S. Pressman. Menurut Pressman (2002: 38), rekayasa perangkat lunak mencakup tahap-tahap: analisis kebutuhan, desain, pengkodean, pengujian, dan pemeliharaan.
Salah satu model pembelajaran berbasis web dikembangkan oleh Davidson dan Karel L. Rasmussen (2006). Model yang dikembangkan oleh Davidson dan Rasmussen tersebut meliputi tahap analisis, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi.
Tahap analisis meliputi analisis masalah dan analisis komponen pembelajaran. Tahap desain meliputi desain pembelajaran dan desain software. Tahap pengembangan adalah merakit berbagai komponen desain pembelajaran dan software menjadi sebuah program pembelajaran berbasis web. Tahap implementasi terdiri dari implementasi sementara dan implementasi penuh. Sedangkan tahap evaluasi dibedakan menajdi evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.
Pengembangan desain pembelajaran untuk web based learning dirancang sedemikian rupa agar proses pembelajaran online tersebut dapat berjalan dengan efektif. Ada tiga elemen pokok yang harus ada dalam desain model pembelajaran berbasis web, yaitu learning tasks, learning resources, dan learning supports. Learning tasks mencakup aktivitas, masalah, dan interaksi untuk melibatkan peserta didik. Learning resources memuat konten, informasi dan sumber-sumber yang dapat diakses oleh peserta didik. Learning supports terkait dengan petunjuk belajar, motivasi, umpan balik, dan kemudahan akses bagi peserta didik. Ahli menekankan penerapan
e-learning pada pembelajaran secara online dan dibagi menjadi dua yaitu sederhana dan terpadu. Penerapan e-learning yang sederhana hanya berupa kumpulan bahan pembelajaran yang dimasukkan ke dalamweb serverdan ditambah dengan forum komunikasi melaluie-maildan ataumailing list(milist). Penerapan terpadu yaitu berisi berbagai bahan pembelajaran yang dilengkapi dengan multimedia dan dipadukan dengan sistem informasi akademik, evaluasi, komunikasi, diskusi, dan berbagai sarana pendidikan lain, sehingga menjadi portale-learning.Pembagian tersebut di atas berdasarkan pada pengamatan dari berbagai sistem pembelajaran berbasiswebyang ada di internet. Ada tiga jenis format penerapane-learning, yaitu:
1.Web Supported e-learning, yaitu pembelajaran tetap dilakukan secara tatap muka dan didukung dengan penggunaan website yang berisi rangkuman tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, tugas, dan tes singkat
2.Blended or mixed mode e-learning,yaitu sebagaian proses pembelajaran dilakukan secara tatap muka dan sebagian lagi dilakukan secara online
3.Fully online e-learning format, yaitu seluruh proses pembelajaran dilakukan secara online termasuk tatap muka antara pendidik dan peserta didik juga dilakukan secara online yaitu dengan menggunakan teleconference.

Keberhasilan penerapan dari e-learning bergantung pada beberapa faktor antara lain teknologi, materi pembelajaran dan karakteristik dari peserta didik. E-learning sangat berbeda dengan pembelajaran secara tradisional. Pada pembelajaran tradisional, peran pendidik masih cukup dominan, sedangkan pada e-learning peserta pendidik harus mempunyai kesadaran untuk belajar secara aktif dan mandiri. Nedelko (2008), menjelaskan beberapa karakteristik peserta didik yang dapat mempengaruhi dari keberhasilan e-learning:

1. Mempunyai pengetahuan dan keterampilan untuk menggunakan komputer dan TIK lainnya, karena e-learning didukung oleh penggunaan komputer dan peralatan TIK.
2.  Motivasi untuk belajar, peserta didik harus mempunyai kesadaran untuk mempelajari bahan dan materi yang telah diberikan guru, bukan hanya belajar ketika di kelas saja.
3.  Disiplin, peserta didik harus disiplin untuk belajar, mengerjakan tugas, dan menentukan waktu dan tempat untuk belajar.
4.  Mandiri, kemandirian peserta didik mutlak diperlukan di dalam e-learning, karena tidak setiap saat antara peserta didik dan pendidik dapat bertatap muka. Pembelajaran tatap muka lebih bersifat sebagai diskusi antara peserta didik dengan pendidik, bukan sebagai transfer pengetahuan saja.
5.  Mempunyai ketertarikan terhadap e-literatur, karena hampir semua materi pembelajaran disajikan secara online ataupun melalui media elektronik.
6.  Dapat belajar secara sendirian (felling isolation), peserta didik yang ketika belajar harus secara berkelompok atau ada teman akan merasa kesulitan dengn e-learning.
7. Mempunyai kemampuan kognitif yang cukup tinggi, peserta didik yang mengikuti e-learning hendaknya mempunyai kemampuan kognitif tingkat sintesis dan evaluasi, hal ini dapat untuk mengatasi permasalahan ketidakintesifan pendampingan pendidik dan teman sebayanya.
8.  Mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah, peserta didik yang dapat memecahkan masalah secara mandiri akan lebih mudah mengikuti e-learning.

36 komentar:

  1. jelaskan dan berikan contoh mengenai Blended or mixed mode e-learning.

    BalasHapus
  2. b. Model Mixed/Blended.

    Model ini menempatkan e-learning menjadi bagian tidak terpisahkan dari pembelajaran. Misalnya pembelajaran teori dilaksanakan secara daring (dalam jaringan), sedangkan pembelajaran praktik dilaksanakan secara tatap muka. Akan tetapi, Bersin (2004) berpendapat bahwa model Blended Learning merupakan gabungan dari model Adjunct dan Mixed, sehingga sedikit atau banyak porsi dari e-learning, dalam pembelajaran tatap muka, seluruh proses tersebut merupakan Blended Learning.

    BalasHapus
  3. jelaskan kekurangan e-learning

    BalasHapus
    Balasan
    1. a. Kurangnya interaksi antara pengajar dan siswa atau bahkan antara siswa itu sendiri, bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar mengajar.

      b. Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong aspek bisnis atau komersial.

      c. Proses belajar dan mengajarnya cenderung ke arah pelatihan dari pada pendidikan.

      d. Berubahnya peran guru dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini dituntut untuk menguasai teknik pembelajaran dengan menggunakan ICT (Information Communication Technology).

      e. Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar yang tinggi cenderung gagal.

      f. Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon, dan komputer).

      g. Kurangnya mereka yang mengetahui dan memiliki keterampilan soal-soal internet.

      h. Kurangnya penguasaan bahasa komputer.

      Hapus
  4. Tambahan , dari Hasil penelitian Setiawan (2014) tentang implementasi menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) menunjukkan bahwa faktor-faktor yang signifikan mempengaruhi penerimaan user (peserta didik atau guru) sebagai berikut.
    1. Pengguna (peserta didik atau guru) yang sudah memahami kemudahan menggunakan sistem e-learning tersebut dan manfaat menggunakannya, maka akan mempunyai niat dan minat untuk menggunakan sistem e-learning. Dari minat penggunaan tersebut maka para pengguna akan senantiasa secara nyata menggunakan sistem e-learning sebagai sumber pembelajaran.
    2. Keberadaan pemahaman akan manfaat penggunaan sangat dipengaruhi oleh faktor di luar pengguna yakni organisasi bahan ajar elektronik yang dimiliki oleh sistem e-learning tersebut. Lain halnya untuk pemahaman akan adanya kemudahan menggunakan sistem e-learning yang sangat dipengaruhi oleh faktor luar bagi sistem e-learning tersebut yakni kondisi dari perbedaan individu pengguna.
    3. Bentuk model penerimaan sebuah teknologi informasi baru, yakni sistem e-learning yang diterapkan pada sampel pengguna yaitu ErO (relevansi e-resource dengan kebutuhan pembelajaran dan aksesibilitas e-resource dalam penggunaan) dan ID (visibilitas penggunaan, perkembangan diri teknologi komputer, pengalaman atas penggunaan komputer, dan pengetahuan akan bahan ajar) sebagai faktor laten luar atau faktor eksternal. PEoU (kemudahan untuk dipelajari/dipahami, kemudahan untuk digunakan, dan frekuensi penggunaan dalam pembelajaran), PU (kemudahan untuk meningkatkan keterampilan pembelajaran, mempertinggi efektifitas pembelajaran, menjawab kebutuhan pembelajaran, meningkatkan hasil pencapaian pembelajaran, meningkatkan efisiensi pembelajaran, dan memungkinkan adanya pengembangan cara pembelajaran), ITU (penambahan software/plugin pendukung, motivasi untuk tetap menggunakan dalam pembelajaran, dan memotivasi pengguna lain) dan ASU (lama penggunaan dalam pembelajaran dan kepuasan penggunaan dalam pembelajaran) sebagai faktor dalam atau faktor internal.

    BalasHapus
  5. Syarat-syarat apa saja, dari suatu e-learning itu dapat dikatakan layak atau sudah bagus untuk dipergunakan dalam proses pembelajaran?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Fungsi E-Learning
      Ada 3 (tiga) fungsi pembelajaran elektronik terhadap kegiatan pembelajaran di dalam
      kelas (Classroom instruction), yaitu sebagai suplemen yang sifatnya pilihan / optional,
      pelengkap (komplemen), atau pengganti (substitusi) (Siahaan, 2002).
      a. Suplemen
      Dikatakan berfungsi sebagai supplemen (tambahan), apabila peserta didik
      mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi
      pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban /
      keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran
      elektronik. Sekalipun sifatnya opsional, peserta didik yang
      memanfaatkannya tentu akan memiliki tambahan pengetahuan atau
      wawasan.
      b. Komplemen (Tambahan)
      Dikatakan berfungsi sebagai komplemen (pelangkap) apabila materi
      pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melangkapi materi
      pembelajaran yang diterima siswa di dalam kelas (Lewis, 2002). Sebagai
      Komplemen berarti materi pembelajaran elektronik diprogramkan utnuk
      menjadi materi reinforcement (pengayaan) atau remedial bagi peserta didik
      di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional. Materi
      pembelajaran elektronik dikatakan sebagai enrichment, apabila kepada
      peserta didik yang dapat dengan cepat menguasai / memahami materi
      pelajaran yang disampaikan guru secara tatap muka (fast leaners)
      diberikan kesempatan untuk mengakses materi pembelajaran elektronik
      yang memang secara khusus dikembangkan untuk mereka. Tujuannya agar
      semakin memantapkan tingkat penguasaan peserta didik terhadap materi
      pelajaran yang disajikan guru didalam kelas. Dikatakan sebagai program
      remedial, apabila kepada peserta didik yang mengalami kesulitan
      memahami materi pelajaran yang disajikan guru secara tatap muka di kelas
      (Slow learners) diberikan kesempatan untuk memanfaatkan materi
      pembelajaran elektronik yang memang secara khusus dirancang untuk
      mereka.
      c. Pengganti (Substitusi)
      Beberapa perguruan tinggi di Negara-negara maju memberikan beberapa
      alternatif model kegiatan pembelajaran / perkuliahan kepada para
      mahasiswanya. Tujuannya agar para mahasiswa dapat secara fleksibel
      mengelola kegiatan perkuliahannya sesuai dengan waktu dan aktivitas lain
      sehari-hari mahasiswa.


      shg, apabila tiga komponen ini telah terjalankan, elearning itu dpt dikatakan baik

      Hapus
    2. #tambahan

      Menurut Rosenberg (212-213), kriteria ideal bagi sebuah e-learning adalah berdasarkan pada empat pengukuran atau evaluasi. Kriteria pertama adalah pada masalah biaya yang dikeluarkan (cost). Pengukuran ini dilandaskan pada berapa biaya yang dibutuhkan untuk mengembangkan program dan menyampaikan/mengajarkannya kepada siswa. Pada dasarnya keefektifan biaya yang dikeluarkan sebaiknya dibandingkan dengan program yang terjadi di kelas (classroom). Pada perbandingannya, program e-learning unggul dalam hal keefektifan waktu yang juga berdampak pada lebih efisiennya biaya yang dikeluarkan untuk program ini, baik dalam jumlah siswa/pembelajar skala kecil maupun skala besar (sampai ribuan). Media edu2.0 sudah memenuhi kriteria pertama dan yang menjadi kelebihannya terutama adalah bahwa media ini benar-benar cukup efisien dalam biaya. Untuk versi berbayar (business version), biaya yang dikenakan juga sangat minim sehingga dapat dipastikan media ini sangat unggul pada masalah biaya.
      Pengukuran kedua ada pada kualitas. Pada poin ini, yang diukur adalah evaluasi akhir dari pembelajaran. Kemudian umpan-balik dari siswa untuk dijadikan dasar pengembangan selanjutnya. Peningkatan kinerja yang cukup baik setelah mengikuti pembelajaran juga perlu diukur.
      Kriteria ketiga adalah pada layanan. Implikasi layanan ini ada pada kemudahan akses dan mempu mengatasi perubahan yang cepat di berbagai tingkatan. Ketersediaan program ini juga tidak dihalangi waktu dan tempat. Akhrinya tidak dibatasi oleh ruang kelas, sehingga secara individual program e-learning ini dapat diakses.
      Kriteria keempat mengenai kecepatan. Di sini maksudnya adalah mengenai kecepatan respon terhadap perubahan yang cepat. Perubahan pada kebutuhan yang ada saat itu apakah dapat direspon dengan baik melalui media ini. Yang menjadi cukup penting adalah pada kecepatan dalam akses internet

      Hapus
  6. Fungsi e-learning dalam kegiatan pembelajaran adalah sebagai suplemen (tambahan), komplemen (pelengkap), dan substitusi (pengganti).

    1) Suplemen (tambahan)
    Peserta didik mempunyai kebebasan memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses materi pembelajaran elektronik. Mengakses materi pembelajaran elektronik hanya sebagai himbauan pengajar kepada peserta didik.

    2) Komplemen (pelengkap)
    Materi pembelajaran elektronik diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima peserta didik di dalam kelas, sebagai pengayaan bagi peserta didik berkemampuan rata-rata, atau remedial bagi peserta didik yang lamban kemampuan belajarnya.

    3) Substitusi (pengganti)
    E-learning sebagai pengganti digunakan di beberapa perguruan tinggi di negara-negara maju. Tujuannya untuk membantu mempermudah mahasiswa mengelola kegiatan pembelajaran/perkuliahan sehingga mahasiswa dapat menyesuaikan waktu dan aktivitas lainnya dengan kegiatan perkuliahan. Mahasiswa dapat memilih model kegiatan pembelajaran yaitu tatap muka saja, sebagian tatap muka dan sebagaian melalui internet, atau sepenuhnya melalui internet.

    Alternatif model pembelajaran manapun yang dipilih mahasiswa tidak menjadi masalah dalam penilaian, artinya semua model tersebut mendapatkan pengakuan atau penilaian yang sama. Keadaaan yang sangat fleksibel ini sangat membantu mahasiswa mempercepat proses perkuliahannya.

    BalasHapus
  7. Jelaskan perbedaan E-learning dengan pembelajaran secara tradisional?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo belajar menggunakan metode E-Learning kita bisa mengikuti jaman sekarang yang belajar menggunakan komputer atau web internet, jarak jauh antara gru dengan anak didik

      sedangkan pembelajaran konvensional dengan cara berkomunikasi lisan antara guru dengan anak didik dalam proses belajar dan pembelajaran.

      Hapus
    2. elearning: Jarak tak akan mempengaruhi proses pembelajaran, sebab guru dapat memantau siswa dr aktivitas pembelajaran yang dilakukan

      tradisional: guru dan siswa dapat berinteraksi dgn sgt baik

      Hapus
  8. Menurut anda nilai karakter apa sajakah yang bisa diambil dan dinilai pada siswa dalam pembelajaran e-learning?

    BalasHapus
    Balasan
    1. ketelitian siswa, ketepatan dalam mengerjakan soal, dan tepat waktu dalam pengumpulan tugas

      Hapus
  9. menurut anda e-learning yang bagaiamanakah yang efektif bagi pembelajaran ? serta contohnya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. elearninf yang memuat flash jika dibutuhkan, sebab pada mata pelajaran kimia, praktikum sgt dibutuhkan

      Hapus
    2. #tambahan

      Menurut Rosenberg (212-213), kriteria ideal bagi sebuah e-learning adalah berdasarkan pada empat pengukuran atau evaluasi. Kriteria pertama adalah pada masalah biaya yang dikeluarkan (cost). Pengukuran ini dilandaskan pada berapa biaya yang dibutuhkan untuk mengembangkan program dan menyampaikan/mengajarkannya kepada siswa. Pada dasarnya keefektifan biaya yang dikeluarkan sebaiknya dibandingkan dengan program yang terjadi di kelas (classroom). Pada perbandingannya, program e-learning unggul dalam hal keefektifan waktu yang juga berdampak pada lebih efisiennya biaya yang dikeluarkan untuk program ini, baik dalam jumlah siswa/pembelajar skala kecil maupun skala besar (sampai ribuan). Media edu2.0 sudah memenuhi kriteria pertama dan yang menjadi kelebihannya terutama adalah bahwa media ini benar-benar cukup efisien dalam biaya. Untuk versi berbayar (business version), biaya yang dikenakan juga sangat minim sehingga dapat dipastikan media ini sangat unggul pada masalah biaya.
      Pengukuran kedua ada pada kualitas. Pada poin ini, yang diukur adalah evaluasi akhir dari pembelajaran. Kemudian umpan-balik dari siswa untuk dijadikan dasar pengembangan selanjutnya. Peningkatan kinerja yang cukup baik setelah mengikuti pembelajaran juga perlu diukur.
      Kriteria ketiga adalah pada layanan. Implikasi layanan ini ada pada kemudahan akses dan mempu mengatasi perubahan yang cepat di berbagai tingkatan. Ketersediaan program ini juga tidak dihalangi waktu dan tempat. Akhrinya tidak dibatasi oleh ruang kelas, sehingga secara individual program e-learning ini dapat diakses.
      Kriteria keempat mengenai kecepatan. Di sini maksudnya adalah mengenai kecepatan respon terhadap perubahan yang cepat. Perubahan pada kebutuhan yang ada saat itu apakah dapat direspon dengan baik melalui media ini. Yang menjadi cukup penting adalah pada kecepatan dalam akses internet

      Hapus
  10. apa yang harus ditambahkan untuk memperbaiki e-learning ini? sehingga dapat lebih baik jika diterapkan dalam pembelajaran kimia

    BalasHapus
  11. Sebutkan dan jelaskan tiga elemen pokok yang harus ada dalam desain model pembelajaran berbasis web ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. tiga elemen pokok yagn harus ada dalam desain model pembelajaran berbasis web, yaitu learning tasks, learning resources, dan learning supports. Learning tasks mencakup aktivitas, masalah, dan interaksi untuk melibatkan peserta didik. Learning resources memuat konten, informasi, dan sumber-sumber yagn dapat diakses oleh peserta didik. Learnign supports terkait dengan petunjuk belajar, motivasi, umpan balik, dan kemudahan akses bagi peserta didik (Ron Olivier: 2001).

      Hapus
  12. seberapa efejtif kah media elearning dalam proses pembelajaran kimia? bukankah proses tatap muka lebih baik ketimbang elearning?

    BalasHapus
    Balasan
    1. belum jika didalam elearninf tsb tidak memuat aplikasj virtual lab. sebab, di mata pelajaran kimia, praktik dan teori harus berjalan seimbang

      Hapus
  13. Apa saja kekurangan dari eleraning dalam pandang siswanya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beberapa kekurangan yang dimiliki oleh pemanfaatan e-Learning:
      Kurangnya interaksi antara pengajar dan pelajar atau bahkan antar pelajar itu sendiri. Kurangnya interaksi ini bisa memperlambat terbentuknya values dalam proses belajar mengajar.Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau aspek sosial dan sebaliknya mendorong tumbuhnya aspek bisnis/komersial.
      Proses belajar mengajar cenderung ke arah pelatihan daripada pendidikan.
      Berubahnya peran pengajar dari yang semula menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui teknik pembelajaran yang menggunakan ICT (Information, Communication and Technology). Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet ( mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon ataupun komputer).
      Kurangnya mereka yang mengetahui dan memiliki keterampilan tentang internet.
      Kurangnya penguasaan bahasa komputer.

      Hapus
  14. menurut anda seberapa pentingkah menggunakan e-learning dalam pembelajaran kimia?

    BalasHapus
  15. Jelaskan mengenai jenis evaluasi pada penggunaaan e-learning ini?

    BalasHapus
  16. apa kekurangan elearing pada materi kimia ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. tidak bisa nya melakukan virtual lab, padahal virtual lab sangat dibutuhkan di pembelajaran kimia

      Hapus
  17. Bagaimana seoran guru mengatasi kekurangan dari e-learning?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sebagai calon seorang guru, yg perlu dilakukan agar elearning memiliki banyak manfaat dalam proses pembelajaran adalah dengan memberikan Informasi bahan penarik perhatian yang terdapat dalam pembelajaran internet harus memperhatikan penggunaan gambar yang berwarnawarni, memunculkan animasi, penggunaan nada atau lagu, dan komposisi tampilan yang proporsional (huruf atau gambar tidak terlalu kecil). Pengembangan e-learning melalui internet harus komunikatif dan menarik. Materi dan teori merupakan inti dari seluruh isi materi pembelajaran, yang dapat diarahkan dalam bentuk e-book sehingga memudahkan siswa untuk mencari topik-topik yang tidak dimengerti dengan lebih cepat. Dengan cara simulasi dan visualisasi, teori atau perumusan materi yang cukup kompleks dapat dijelaskan dengan menarik sehingga lebih mudah diserap oleh siswa.

      Hapus
  18. tambahan :


    Metode e-learning bisa diterapkan pada sekolah mana pun, tidak dikhususkan pada sekolah tingkat tinggi saja seperti universitas, tetapi dimulai dari sekolah dasar pun juga sudah bisa memakai sistem pembelajaran ini. Karena jelas dirasakan manfaatnya dengan adanya e-learning untuk kemajuan pendidikan di Indonesia. Apa saja sih, manfaat e-learning? Mungkin, ada yang bertanya begitu. Manfaat yang akan dijabarkan, diambil contoh penerapan e-learning pada sekolah tingkat awal (sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah umum), antara lain:

    1. Dengan e-learning, pembelajaran lebih hemat dari segi waktu. Siswa tidak perlu lagi mencatat pelajaran yang dituliskan guru pada papan tulis seperti pada zaman dulu. Siswa dapat meng-copy pelajaran yang guru berikan melalui media flashdisk atau cd. Atau bisa juga guru mengirimkan email silabus materi pekanan yang dipelajari. Secara langsung, guru pun menjadi lebih ringan karena tidak perlu menuliskan materi pada papan tulis.

    2. Dengan e-learning, pembelajaran lebih hemat dari segi biaya. Siswa tidak lagi diharuskan mempunyai buku pelajaran, karena buku-buku pegangan itu bisa diperoleh dengan mengunggah buku sekolah elektronik yang ada. Jadi siswa pun tidak perlu membawa tas yang berat berisikan buku-buku pelajaran. Begitu juga, guru cukup membuka laptop atau netbooknya ketika mengajar di kelas.

    3. Dengan e-learning, pembelajaran membuat siswa aktif. Siswa yang didampingi orangtua menjadi lebih aktif untuk mencari sendiri buku pelajaran yang dibutuhkan, mengerjakan tugas sekolah seperti kliping dengan bantuan internet.

    BalasHapus
  19. Bagaimana karakteristik Model Pengembangan Pembelajaran Berbasis Web ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jolliffe dkk, sebagaimana dikutip oleh Sunaryo (2007) menyatakan bahwa dari sekian banyak metode dan teknologi yang dipakai dalam pembelajaran berbasis internet, pada umunya memiliki karakteristik: (a) materi pembelajaran terdiri atas teks, grafik, dan unsur multimedia seperti video, audio, dan animasi; (b) adanya aplikasi komunikasi yang realtime dan tidak realtime seperti ruang chat, forum diskusi, dan konferensi video; (c) menggunakan web browser; (d) penyimpanan, pemeliharaan, dan pengadministrasian materi dilakukan dalam webserver, dan (e) menggunakan internet protokol untuk memfasilitasi komunikasi antara perserta didik dengan materi pembelajaran.
      Selain pendapat Jolliffe di atas, pendapat tentang karakteristik pembelajaran berbasis internet dikemukakan pula oleh Sukartawi. Menurut Sukartawi (2003), karakteristik pembelajaran berbasis internet adalah: (a) memanfaatkan jasa teknologi elektronik, dimana guru dan siswa relatif mudah berkomunikasi tanpa ada batasan yang bersifat protokoler; (b) memanfaatkan keunggulan komputer; (c) menggunakan bahan ajar bersifat mandiri yang disimpan di komputer sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa kapan saja dan di mana saja; (d) jadwal pembelajaran, kurikulum, dan kemajuan belajar dapat diakses melalui komputer. Kacha Chansilp & Ron Oliver (2004) menegaskan bahwa web based instruction memiliki keunggulan dibandingkan dengan pembelajaran tatap muka biasa karena model pembelajaran ini mudah di update, lebih accesible, lebih fleksibel, dan lebih murah.
      Wawancara yang dilakukan oleh Burge (Muirhead: 2001) menghasilkan identifikasi harapan peserta didik terhadap pembelajaran online. Harapan-harapan tersebut adalah partisipasi dalam proses pembelajaran, respon dari pengajar terhadap aktivitas peserta didik, affective feedback dengan memberikan empati untuk memecahkan masalah siswa, serta focused messaging dengan memberikan pesan-pesan atau komentar online secara konsisten melalui forum diskusi.
      Dilihat dari pemanfaatannya, pembelajaran berbasis web dibedakan menjadi tiga tipe yaitu: web based instruction, web enhanced instruction, dan web supported instruction. Web based instruction adalah bentuk pendidikan jarak jauh dimana pembelajaran dikirimkan sepenuhnya secara online. Dalam web based instruction, peserta didik dan pendidik tidak pernah melakukan interaksi atau pertemuan tatap muka, seluruh materi pembelajaran dan ujian dikirim melalui web. Web enhanced instruction adalah bentuk pembelajaran dimana sebagian materi atau sesi kelas dikirimkan atau dilakukan melalui web dan sebagian lainnnya diajarkan dalam bentuk tatap muka. Dengan demikian dalam web enhanced instruction, tidak semua materi diberikan melalui website karena pertemuan tatap muka masih tetap dilakukan. Dalam hal ini pembelajaran online menjadi pendukung untuk meningkatkan kualitas pembelajaran secara umum. Web supported instruction adalah pembelajaran yang dilakukan dengan cara tradisional dan tatap muka di kelas regular, tetapi diberi tambahan tes atau aktivitas online (Davidson & Rasmusen, 2006: 24).

      Hapus
  20. menambahkan
    Adapun kelemahan e-learningdipandang dari segi peserta didik antara lain:
    1. Merasa kesepian, peserta didik dapat merasa kesepian karena tidak adanya interaksi fisik dengan pendidik dan teman-temannya, terutama untuk modelfully online e-learning format.
    2. Keterampilan menggunakan peralatan ICT, peserta pendidik yang tidak terampil menggunakan peralatan ICT, akan kesulitan dalam mengikuti pembelajaran sehingga dapat mempengaruhi hasil akhir pembelajaran.
    3. Peserta didik yang tidak disiplin dan kurang memilikii motivasi untuk belajar akan sulit mengikuti tahap-tahap proses pembelajaran.
    4. Ada beberapa konsep-konsep pembelajaran yang sulit untuk dimodelkan atau dipelajari tanpa bimbingan pendidik.
    5. Adanya permasalahan saat menentukan format evaluasi yang tepat berhasil atau tidaknya peserta pendidik didalam mengikuti pembelajaran secarae-learning.

    BalasHapus
  21. menuerut anda seberapa berkembangkah pembelajaran kimia melalui e-learning ini di indonesia?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sangat berkembang, karena kimia merupakan salah satu oelajaran yang cukup sulit dikalangan siswa shg perlu sering latihan soal dan elearning memudahkan proses pembelajaran kimia

      Hapus