LANDASAN TEORITIS MULTIMEDIA PEMBELAJARAN
Pendidikan
adalah suatu usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik agar berperan aktif dan
positif dalam hidupnya sekarang dan yang akan datang. pendidikan memiliki nilai
yang strategis dan urgen dalam pembentukansuatu bangsa. Pendidikan juga dapat
dikatakan sebagai suatu upaya untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa
tersebut. Sebab lewat pendidikanlah akan diwariskan nilai-nilai luhur yang
dimiliki oleh bangsa tersebut.
Belajar
adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada setiap individu disepanjang
hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi antara individu
dengan lingkungan hidupnya. Oleh karena itu, belajar dapat terjadi kapan saja
dan dimana saja. Apabila proses belajar itu diselenggarakan secara formal
seperti di sekolah-sekolah, tidak lain adalah bertujuan untuk mengarahkan
perubahan pada diri siswa secara terencana, baik dalam aspek pengetahuan,
keterampilan, maupun sikap. Semua interaksi tersebut dipengaruhi oleh
lingkungan, antara lain terdiri atas peserta didik, pendidik, materi
pembelajaran dan peralatan media pembelajaran. Oleh sebab itu media
pembelajaran merupakan suatu yang mesti ada dan benar-benar di perhatikan,
sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan baik.
Kata
media berasal dari bahasa latinmediusyang secara harfiah berarti ‘tengah’,
‘perantara’ atau ‘pengantar’.
MenurutGerlach dan Ely (1971)mengatakan bahwa media apabila dipahami secara
garis besar adalah manusia, materi atau kejadian yang membangun kondisi yang
membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap.
Media
adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari
pengirim ke penerima, sehingga dapat merangsang fikiran, perasaan, perhatian
dan minat si penerima pesan. Di dalam proses penyampaian informasi ini dengan
menggunakan saluran (media) maka komunikan akan menerima informasi/pesan
tersebut melalui kelima panca inderanya (penglihatan, pendengaran, perabaan,
penciuman dan pengecap).
Dalam
pengertian ini, guru, buku teks dan lingkungansekolah merupakan media.Media
pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan
(bahan pembelajaran), sehingga dapat merangsang perhatian, minat, pikiran, dan
perasaan siswa dalam kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran
tertentu.Ada beberapa jenis media pembelajaran yaitu, teks, media audio, media
visual, media proyeksi gerak, dan manusia.
Ada
beberapa tinjauan tentang landasan penggunaan media pembelajaran, antara lain
landasasan filosofis, psikologis, teknologis dan empiris.
1.Landasan filosofis
Menurut
Daryanto (2010:12) memaparkan landasan filosofis penggunaan media
pembelajaran yaitu bahwa dengan digunakannya berbagai jenis media hasil
teknologi baru di dalam kelas, akan berakibat proses pembelajaran yang kurang
manusiawi. Dengan kata lain, penerapan teknologi dalam pembelajaran akan
terjadi dehumanisasi.
Siswa
dihargai harkat kemanusiaanya diberi kebebasan untuk menentukan pilhan, baik
cara maupun alat belajar sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, penerapan
teknologi tidak berarti dehumanisasi. Sebenarnya perbedaan pendapat tersebut
tidak perlu muncul, yang penting bagaimana pandangan guru terhadapsiswa dalam
proses pembelajaran. Jika guru menganggap siswa sebagai anak manusia yang
memiliki kepribadian, harga diri, motivasi, dan memiliki kemampuan pribadi yang
berbeda dengan yang lain,maka baik menggunaka media hasil teknologi baru atau
tidak, proses pembelajaran yang dilakukan akan tetap menggunakan pendekatan
humanis.
2. Landasan psikologis.
Dengan
memperhatikan kompleks dan uniknya proses belajar, maka ketepatan
pemilihan media dan metode pembelajaran akan sangat berpengaruh terhadap hasil
belajar siswa. Di samping itu, persepsi siswa juga sangat mempengaruhi hasil
belajar. Oleh sebab itu, dalam pemilihan media, di samping memperhatikan
kompleksitas dan keunikan proses belajar, memahami makna persepsi serta
faktor-faktor yang berpengaruh terhadap penjelasanpersepsi hendaknya diupayakan
secara optimal agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif.
Untuk
maksud tersebut, perlu: (1) diadakan pemilihan media yang tepat sehingga dapat
menarik perhatian siswa serta memberikan kejelasan obyek yang diamatinya, (2)
bahan pembelajaran yang akan diajarkan disesuaikan dengan pengalaman siswa.
Kajian psikologi menyatakan bahwa anak akan lebih mudah mempelajari hal yang
konkrit ketimbang yang abstrak. Berkaitan dengan kontinuum konkrit-abstrak dan
kaitannya dengan penggunaan media pembelajaran, ada beberapa pendapat.
Pertama,
Jerome Bruner, mengemukakan bahwa dalam proses pembelajaran hendaknya
menggunakan urutan dari belajar dengan gambaran atau film (iconic
representation of experiment) kemudian ke belajar dengan simbul, yaitu
menggunakan kata-kata (symbolic representation). MenurutBruner, hal ini juga
berlaku tidak hanya untuk anak tetapi juga untuk orang dewasa.
Kedua,
Charles F. Haban, mengemukakan bahwa sebenarnya nilai dari media terletak pada
tingkat realistiknya dalam proses penanaman konsep, ia membuat jenjang berbagai
jenis media mulai yang paling nyata ke yang paling abstrak.
Ketiga, Edgar Dale, membuat
jenjang konkrit-abstrak dengan dimulai dari siswa yang berpartisipasi dalam
pengalaman nyata, kemudian menuju siswa sebagai pengamat kejadian nyata,
dilanjutkan ke siwa sebagai pengamat terhadap kejadian yang disajikan dengan
media, dan terakhir siswa sebagai pengamat kejadian yang disajikan dengan
simbol.Salah satu gambaran yang paling banyak digunakan acuan sebagai landasan
teori penggunaan media dalam pembelajaran adalah kerucut pengalaman Dale(Dale’s
Coneof Experience).
Dalam
proses pembelajaran, media memiliki kontribusi dalam meningkatkan mutu dan
kualitas pengajaran. Kehadiran media tidak saja membantu pengajar dalam
menyampaikan materi ajarnya, tetapi memberikan nilai tambah pada kegiatan
pembelajaran. Kerucut pengalaman Dale diatas mengklasifikasikan media
berdasarkanpengalaman belajar yang akan diperoleh oleh peserta didik, mulai
dari pengalaman belajar langsung, pengalaman belajar yang dapat dicapai melalui
gambar, dan pengalaman belajar yang bersifat abstrak. Materi yang ingin
disampaikan dan diinginkan peserta didik dapat menguasainya disebut sebagai
pesan. Guru sebagai sumber pesan menuangkan pesan-pesan dalam simbol-simbol
tertentu (encoding)dan peserta didik sebagai penerima menafsirkan simbol-simboltersebut
sehingga dipahami sebagai pesan (decoding).
3.Landasan teknologis
Teknologi
pembelajaran adalah teori dan praktek perancangan, pengembangan, penerapan,
pengelolaan, penilaian proses dansumber belajar. Jadi, teknologi pembelajaran
merupakan proses kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, ide,
peralatan, dan organisasi untuk menganalisis maslaha, mencari cara pemecahan,
melaksankan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah-masalah dalam
situasi di mana kegiatan belajar itu mempunyai tujuan dan terkontrol.
Dalam
teknologi pembelajaran, pemecahan masalahan dilakukan dalam bentuk: kesatuan
komponen-komponen system pembalajaran yang telah disusun dalm fungsi desain
atau seleksi, dan dalam pemanfaatan serta dikombinasikan sehingga menjadi
system pembelajaran yang lengkap. Komponen-komponen ini termasuk pesan, orang,
bahan, media, peralatan, teknik dan latar.
4. Landasan empiris.
Temuan-temuan
penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara penggunaan media
pembelajaran dan karakteristik belajar siswa dalam menentukan hasil belajar
siswa. Artinya, siswa akan mendapat keuntungan yang signifikan bila ia belajar
dengan menggunakan media yang sesuai dengan karakteristik tipe atau gaya
belajarnya. Siswa yang memiliki tipe belajar visual akan lebih memperoleh
keuntungan bila pembelajaran menggunakan media visual, seperti gambar, diagram,
video, atau film.
Sementara
siswa yang memiliki tipe belajar auditif, akan lebih suka belajar dengan media
audio, seperti radio, rekaman suara, atau ceramah guru. Akan lebih tepat dan
menguntungkan siswa dari kedua tipe belajar tersebut jika menggunakan media
audio-visual. Berdasarkan landasan rasional empiris tersebut, maka pemilihan
media pembelajaran hendaknya jangan atas dasar kesukaan guru, tetapi harus
mempertimbangkan kesesuaian antara karakteristik pebelajar, karakteristik
materi pelajaran, dan karakteristik media itu sendiri.